home icon
search icon
menu icon

> Berita > Dosen Farmasi USU Bahas Mikrobioma Sebagai Kunci Deteksi Dini Penuaan di Kongres Internasional Valencia

Dosen Farmasi USU Bahas Mikrobioma Sebagai Kunci Deteksi Dini Penuaan di Kongres Internasional Valencia

Dipublikasi Pada

18 November 2025

Dipublikasi Oleh

Sunaryo S.Kom

Dosen Farmasi USU Bahas Mikrobioma Sebagai Kunci Deteksi Dini Penuaan di Kongres Internasional Valencia
Thumbnail Dosen Farmasi USU Bahas Mikrobioma Sebagai Kunci Deteksi Dini Penuaan di Kongres Internasional Valencia
Dosen Fakultas Farmasi USU, Dr. Rony Abdi Syahputra, mempresentasikan riset mikrobioma sebagai biodetektor penyakit terkait penuaan pada 12th ISM World Congress 2025 di Valencia, Spanyol.

HUMAS FARMASI USU — Dalam upaya memperkuat posisi akademisi Indonesia di kancah ilmiah global, Dr. Rony Abdi Syahputra dari Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) tampil sebagai pembicara dalam 12th ISM World Congress – Targeting Microbiota 2025, yang diselenggarakan oleh International Society of Microbiota (ISM) pada 5–6 November 2025 di Valencia, Spanyol.

 

 

Dalam forum ilmiah bergengsi yang dihadiri oleh para peneliti mikrobioma dari berbagai negara tersebut, Dr. Rony Abdi mempresentasikan topik berjudul “Can Salivary and Skin Microbiome Become a Biodetector for Aging-Associated Diseases? Current Insights and Future Perspectives.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara mendalam bagaimana mikrobioma kulit dan saliva dapat berfungsi sebagai biodetektor potensial untuk penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan (aging-associated diseases).

 

 

Menurut Dr. Rony, keseimbangan mikrobioma yang hidup di kulit dan rongga mulut manusia berperan besar dalam menjaga homeostasis tubuh. Ketika keseimbangan ini terganggu, muncul risiko terjadinya penuaan seluler akibat stres oksidatif dan inflamasi sistemik kronis. Melalui penelitian yang dikembangkannya, ia menyoroti hubungan erat antara keragaman mikrobioma dengan kondisi fisiologis tubuh manusia, terutama dalam proses penuaan yang melibatkan perubahan biologis kompleks.

 

 

Penelitian yang dibawakan menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan profil mikrobioma saliva dan kulit, ilmuwan dapat mengembangkan pendekatan diagnostik non-invasif untuk mendeteksi penyakit degeneratif yang sering menyertai proses penuaan, seperti Alzheimer, diabetes tipe 2, dan gangguan inflamasi kronis lainnya. Pendekatan ini juga membuka peluang besar dalam pengembangan terapi personal berbasis mikrobioma, yang tidak hanya mendiagnosis dini tetapi juga berpotensi menunda atau memperlambat proses penuaan biologis.

 

Kehadiran Dr. Rony Abdi di ajang internasional ini menunjukkan komitmen USU untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan global, terutama dalam bidang bioteknologi kesehatan. Kegiatan ini juga memperkuat jejaring kolaborasi antara akademisi Indonesia dengan lembaga riset dan universitas dunia, sesuai dengan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan pentingnya kemitraan global untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

 

Lebih jauh, riset yang dikembangkan Dr. Rony memiliki keterkaitan kuat dengan SDG 3 (Good Health and Well-being) karena berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan manusia melalui deteksi dini dan pencegahan penyakit terkait penuaan. Selain itu, aspek inovatif dari pemanfaatan mikrobioma sebagai biodetektor mencerminkan SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), yakni mendorong inovasi dalam sektor diagnostik biomedis.

 

Kegiatan Targeting Microbiota 2025 sendiri merupakan forum tahunan yang diselenggarakan oleh International Society of Microbiota untuk mempertemukan ilmuwan, klinisi, dan industri yang berfokus pada penelitian mikrobioma dan aplikasinya dalam dunia medis. Dalam kongres ini, para peserta membahas topik mulai dari mikrobioma usus, kulit, hingga mikrobioma oral, serta implikasinya terhadap kesehatan manusia dan pengobatan modern.

 

Melalui partisipasinya dalam kongres tersebut, Dr. Rony Abdi Syahputra tidak hanya membawa nama baik Universitas Sumatera Utara dan Indonesia di kancah internasional, tetapi juga menunjukkan bagaimana riset yang berakar pada laboratorium universitas dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan dunia. Dengan pendekatan ilmiah yang menitikberatkan pada kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan, langkah ini menjadi bagian penting dari perjalanan menuju masyarakat global yang lebih sehat dan berdaya tahan terhadap proses penuaan.

Berita