Medan, 7 Agustus 2026 — Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. apt. Henny Sri Wahyuni, S.Farm., M.Si., dipercaya menjadi narasumber pada Simposium Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Hotel Santika Dyandra Medan, Jumat (7/8/2026).

Dalam kegiatan ilmiah tersebut, Dr. apt. Henny Sri Wahyuni menyampaikan materi berjudul In Silico Dalam Penemuan Obat Baru”. Topik ini mengangkat pemanfaatan pendekatan komputasi (in silico) dalam proses penemuan dan pengembangan obat, yang menjadi salah satu perkembangan penting dalam bidang ilmu kefarmasian dan riset obat modern.

Pemanfaatan metode in silico memungkinkan peneliti melakukan kajian dan prediksi terhadap kandidat senyawa obat melalui pendekatan berbasis komputer sebelum dilanjutkan ke tahapan penelitian berikutnya. Perkembangan teknologi tersebut membuka peluang untuk mendukung proses penemuan obat yang lebih terarah serta meningkatkan efisiensi penelitian di bidang farmasi.

Kehadiran Dr. apt. Henny Sri Wahyuni sebagai narasumber pada PIT IAI tahun 2026 menunjukkan peran aktif akademisi Fakultas Farmasi USU dalam berbagi pengetahuan dan perkembangan ilmu kefarmasian kepada para profesional. Forum ini juga menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, dan organisasi profesi dalam membahas perkembangan ilmu dan teknologi in silico secara lebih luas sehingga mendorong peningkatan wawasan serta kompetensi profesional para peserta.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan ilmu farmasi semakin erat dengan kemajuan teknologi. Pendekatan in silico dapat menjadi bagian dari strategi inovatif dalam penelitian dan penemuan obat baru, sekaligus membuka peluang pengembangan riset yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.

Materi mengenai in silico dalam penemuan obat baru memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Pengembangan teknologi dan metode penelitian dalam penemuan obat dapat mendukung upaya menghadirkan inovasi di bidang kesehatan dan memperkuat ekosistem penelitian yang berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, penyampaian pengetahuan mengenai perkembangan teknologi in silico kepada apoteker dan peserta forum ilmiah turut mendukung SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas). Kegiatan ilmiah seperti PIT IAI menjadi bagian dari pembelajaran berkelanjutan bagi tenaga profesional agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kefarmasian.

Pemanfaatan pendekatan komputasi dalam penelitian obat juga mencerminkan pentingnya inovasi dan pengembangan teknologi, yang relevan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi dan Infrastruktur). Integrasi ilmu farmasi dengan teknologi komputasi menjadi salah satu bentuk inovasi yang berpotensi memperkuat kapasitas penelitian dan pengembangan obat.

Selain itu, keterlibatan perguruan tinggi dan organisasi profesi dalam forum ilmiah ini turut mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi antara akademisi, praktisi, organisasi profesi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam mendorong pengembangan ilmu kefarmasian yang berkelanjutan.

Bagi USU, keterlibatan dosen dalam forum ilmiah nasional merupakan bagian dari komitmen untuk terus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui keilmuan dan inovasi yang dikembangkan, sivitas akademika diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian SDGs di tingkat nasional maupun global.