home icon
search icon
menu icon

> Berita > Mahasiswa PKPA Apoteker USU Gelar Edukasi Kesehatan di Puskesmas Medan Deli: Wujud Kepedulian terhadap Penggunaan Antibiotik dan Terapi Insulin yang Tepat

Mahasiswa PKPA Apoteker USU Gelar Edukasi Kesehatan di Puskesmas Medan Deli: Wujud Kepedulian terhadap Penggunaan Antibiotik dan Terapi Insulin yang Tepat

Dipublikasi Pada

05 November 2025

Dipublikasi Oleh

Sunaryo S.Kom

Mahasiswa PKPA Apoteker USU Gelar Edukasi Kesehatan di Puskesmas Medan Deli: Wujud Kepedulian terhadap Penggunaan Antibiotik dan Terapi Insulin yang Tepat
Thumbnail Mahasiswa PKPA Apoteker USU Gelar Edukasi Kesehatan di Puskesmas Medan Deli: Wujud Kepedulian terhadap Penggunaan Antibiotik dan Terapi Insulin yang Tepat
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) USU Angkatan 40 melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan di Puskesmas Medan Deli dengan tema “Penggunaan Antibiotik yang Baik dan Benar serta Promosi Kesehatan tentang Terapi Insulin”, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan penerapan praktik profesi apoteker.

HUMAS FARMASI USU — Dalam rangka melaksanakan kegiatan praktik profesi dan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Angkatan 40 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan kegiatan Edukasi Kesehatan dengan tema “Penggunaan Antibiotik yang Baik dan Benar serta Promosi Kesehatan tentang Terapi Insulin”. Kegiatan ini diselenggarakan di Puskesmas Medan Deli, Kota Medan, sebagai bagian dari implementasi peran calon apoteker dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan masyarakat.

 

 

Kegiatan ini merupakan bentuk edukasi publik yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan praktis dan ilmiah mengenai penggunaan antibiotik yang rasional serta pemahaman yang benar terhadap terapi insulin bagi penderita diabetes mellitus. Melalui kegiatan ini, mahasiswa apoteker ingin menanamkan kesadaran kepada masyarakat bahwa penggunaan obat harus didasarkan pada pengetahuan, arahan tenaga kesehatan, serta kepatuhan terhadap dosis dan waktu penggunaan.

 

Edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang baik dan benar menyoroti bahaya penggunaan antibiotik secara sembarangan tanpa resep dokter, yang dapat menimbulkan resistensi antibiotik, yaitu kondisi di mana bakteri menjadi kebal terhadap efek obat, sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati. Sementara itu, edukasi tentang terapi insulin bertujuan membantu masyarakat, khususnya pasien diabetes, memahami pentingnya penggunaan insulin secara tepat — baik dari cara penyimpanan, dosis, teknik penyuntikan, hingga manajemen efek samping — untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mencegah komplikasi jangka panjang.

 

Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa PSPPA Angkatan 40 Fakultas Farmasi USU yang tengah melaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Puskesmas Medan Deli.
Mahasiswa berperan aktif sebagai edukator dan fasilitator, didampingi oleh dosen pembimbing dari Fakultas Farmasi USU dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Medan Deli.
Sinergi antara akademisi dan praktisi ini menunjukkan komitmen Fakultas Farmasi USU dalam mencetak calon apoteker yang tidak hanya kompeten secara ilmiah, tetapi juga berjiwa sosial dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

 

Kegiatan berlangsung di Puskesmas Medan Deli, salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Kota Medan yang melayani masyarakat dari berbagai latar belakang sosial ekonomi.
Puskesmas ini menjadi lokasi strategis untuk kegiatan edukasi karena merupakan tempat pertama yang dikunjungi masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan, termasuk pengobatan penyakit menular dan kronis seperti diabetes.

 

Kegiatan edukasi kesehatan ini dilaksanakan selama masa penempatan PKPA Angkatan 40 tahun 2025, dengan jadwal kegiatan yang disesuaikan bersama pihak Puskesmas Medan Deli.
Pelaksanaan berlangsung secara tatap muka dengan menerapkan prinsip komunikasi dua arah agar masyarakat dapat aktif bertanya dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa apoteker.

 

Edukasi ini dilaksanakan karena masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat secara rasional, khususnya antibiotik, serta masih banyaknya kesalahan persepsi mengenai terapi insulin. Sebagian masyarakat masih memiliki anggapan bahwa antibiotik dapat digunakan untuk semua jenis penyakit, termasuk flu dan batuk yang sebenarnya disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Selain itu, banyak pasien diabetes yang merasa takut atau enggan menggunakan insulin karena kekhawatiran terhadap efek samping, rasa nyeri suntikan, atau ketergantungan.

 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa apoteker ingin menepis anggapan tersebut dan membangun kesadaran bahwa penggunaan antibiotik dan terapi insulin yang benar adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan diri dan mencegah komplikasi kesehatan yang lebih berat.

 

Metode pelaksanaan edukasi dilakukan melalui:

  • Presentasi interaktif menggunakan media visual dan penjelasan sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat.

  • Sesi tanya jawab terbuka yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk berkonsultasi langsung mengenai penggunaan obat yang mereka konsumsi.

  • Pembagian leaflet edukatif berisi informasi ringkas tentang penggunaan antibiotik dan insulin yang benar, sehingga peserta dapat membacanya kembali di rumah.

  • Demonstrasi penggunaan alat suntik insulin (mock demo) dengan alat peraga untuk menunjukkan cara penyuntikan dan penyimpanan insulin yang benar.

 

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Banyak peserta yang aktif bertanya mengenai kebiasaan penggunaan antibiotik di rumah dan teknik penyimpanan obat diabetes. Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan edukatif, mencerminkan semangat mahasiswa apoteker untuk berbagi ilmu dan berkontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat.

 

Kegiatan edukasi kesehatan ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), antara lain:

  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being) Melalui peningkatan literasi kesehatan dan pencegahan resistensi antibiotik serta pengelolaan penyakit diabetes, kegiatan ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

  • SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) Kegiatan ini merupakan bentuk pendidikan nonformal di bidang kesehatan bagi masyarakat, sekaligus media pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu kefarmasian di lapangan.

  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) Kolaborasi antara Fakultas Farmasi USU dan Puskesmas Medan Deli mencerminkan kemitraan strategis antara dunia akademik dan layanan kesehatan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, cerdas, dan berdaya.

 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PSPPA USU berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran apoteker sebagai tenaga kesehatan garda depan dalam memberikan edukasi obat. Dengan semangat berbagi ilmu dan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, kegiatan edukasi seperti ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun generasi yang melek obat, rasional dalam penggunaan, serta sehat secara berkelanjutan.

Berita