Fakultas Farmasi USU Gelar Webinar Nasional Bahas HTA dan Farmakoekonomi
BeritaDosen Farmasi USU Raih Best Poster Presenter di ICCBS 2026 Osaka
BeritaMahasiswa Farmasi USU Raih Kelulusan 100% pada UKOMNAS PDPA 2026
14 Februari 2026
Mhd. Alfisyahrin Lubis, S.T
HUMAS FARMASI USU — Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi bagi promovenda Minda Sari Lubis pada Rabu, 10 Desember 2025, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Sidang terbuka ini dilaksanakan secara luring di Ruang IMT-GT, Gedung Badan Pengelola Akademik (BPA) Universitas Sumatera Utara.
Dalam sidang tersebut, promovenda mempresentasikan disertasi berjudul “Potensi Gel Transetosom Asam Salisilat dengan Konsentrat Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.) untuk Pengobatan Jerawat.” Penelitian ini mengkaji pengembangan sistem penghantaran obat berbasis nanoteknologi menggunakan transetosom untuk meningkatkan efektivitas terapi jerawat melalui peningkatan permeasi zat aktif ke dalam kulit.
Ujian promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, yang bertindak sebagai pimpinan sidang. Proses pembimbingan akademik dilakukan oleh Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt. sebagai Promotor, serta Prof. Dr. Poppy Anjelisa Z. Hasibuan, M.Si., Apt. dan Prof. Dr. Anayanti Arianto, M.Si., Apt. sebagai Ko-Promotor.
Sidang ini juga melibatkan Penguji Luar Komisi, yakni Prof. Dr. Sumaiyah, M.Si., Apt., Prof. Yuandani, M.Si., Ph.D., Apt., Dr. T. Ismanelly Hanum, M.Si., Apt., dan Dr. Endang Sulistyarini Gultom, M.Si., Apt.. Para penguji memberikan penilaian akademik melalui pendalaman materi, klarifikasi metodologi, serta diskusi ilmiah yang menitikberatkan pada validitas ilmiah, inovasi formulasi, dan potensi aplikasi hasilpenelitian.
Dalam uraian disertasinya, promovenda menjelaskan bahwa asam salisilat dan konsentrat gel lidah buaya (KGLB) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat, yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan transetosom sebagai nanovesikel bertujuan untuk meningkatkan permeasi zat aktif ke dalam lapisan kulit, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas terapi topikal jerawat.
KGLB diperoleh melalui metode freeze drying dan dianalisis secara fitokimia, yang menunjukkan kandungan saponin, flavonoid, glikosida, tanin, dan steroid. Konsentrasi efektif ditetapkan pada asam salisilat 0,5% dan KGLB 12,5%. Formulasi transetosom dioptimasi menggunakan metode Simplex Lattice Design, kemudian dikarakterisasi dan dievaluasi aktivitas antibakterinya sebelum diformulasikan dalam bentuk sediaan gel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula transetosom terbaik terdiri atas 1,5% lesitin, 40% etanol 96%, 4% Tween 80, dan 2% propilen glikol, dengan nilai desirabilitas 0,868. Transetosom yang dihasilkan memiliki ukuran partikel kecil, indeks polidispersitas rendah, zeta potensial yang stabil, morfologi vesikel sferis, serta stabil selama 12 minggu. Daya hambat antibakteri transetosom mencapai sekitar 28 mm, sedangkan sediaan gel transetosom menunjukkan daya hambat hingga 32 mm.
Evaluasi lanjutan menunjukkan bahwa gel transetosom memiliki karakteristik fisik yang memenuhi standar, stabil, tidak menunjukkan adanya interaksi kimia berdasarkan analisis FTIR, serta memiliki pelepasan zat aktif yang cepat. Pelepasan asam salisilat dan flavonoid mencapai lebih dari 89% dalam waktu 480 menit, dengan fluks permeasi yang menurun seiring waktu. Uji efektivitas antijerawat pada kulit tikus menunjukkan hasil yang hampir setara dengan produk pembanding Medi-Klin®.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa gel transetosom asam salisilat–KGLB memiliki stabilitas yang baik, aktivitas antibakteri yang kuat, serta efektivitas antijerawat yang menjanjikan, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sediaan topikal inovatif untuk terapi jerawat.
Pelaksanaan Ujian Promosi Doktor ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain:
SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), mendukung pengembangan terapi jerawat yang lebih efektif dan aman melalui inovasi sediaan farmasi berbasis nanoteknologi.
SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), mewujudkan pendidikan doktoral yang bermutu melalui riset mendalam, inovatif, dan berorientasi pada pemecahan masalah kesehatan.
SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur),mendorong penguatan riset dan inovasi farmasi, khususnya dalam pengembangan sistem penghantaran obat dan sediaan topikal modern.

Melalui penyelenggaraan sidang terbuka ini, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
menegaskan komitmennya dalam mengembangkan riset unggulan, memperkuat budaya akademik,
serta menghasilkan lulusan doktor yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi ilmu
pengetahuan dan kesehatan masyarakat.