Fakultas Farmasi USU Gelar Webinar Nasional Bahas HTA dan Farmakoekonomi
BeritaDosen Farmasi USU Raih Best Poster Presenter di ICCBS 2026 Osaka
BeritaMahasiswa Farmasi USU Raih Kelulusan 100% pada UKOMNAS PDPA 2026
27 September 2024
Sunaryo S.Kom
HUMAS FARMASI USU - Universitas Sumatera Utara melakukan pengabdian masyarakat di SD Muhammadiah 29 Sunggal, Kabupaten Deli Serdang yang berlangsung pada hari Sabtu, 31 Agustus 2024. Kali ini, tim USU yang diketuai oleh apt. Dwi Lestari P., M.Si., Ph.D. dari Fakultas Farmasi, mengangkat topik “Pemanfaatan Bahan Alami untuk Formulasi Sabun Cuci Tangan dan Ekoenzim”. Inovasi pemanfaatan bahan alami bunga krisan dan biji kelor yang kaya zat antibakteri dan antioksidan yang diformulasi dalam gel sabun cuci tangan diajarkan pada masyarakat. Selain itu, bagian tanaman krisan dan kelor yang masih segar dan tak terpakai serta bahan di rumah tangga seperti sisa buah dan sayuran segar dapat dimanfaatkan untuk pembuatan ekoenzim yang nantinya juga bisa digunakan sebagai bahan baku kosmetik, maupun cairan pembersih rumah tangga dan pupuk tanaman.

Salah satu upaya penting untuk menjaga kesehatan diri adalah menjaga kebersihan diri (self-hygiene), baik kebersihan badan secara keseluruhan maupun tangan. Kebersihan tangan sangat perlu dijaga oleh karena tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering kemungkinannya berkontak dengan bagian penting di wajah yang dapat menjadi tempat masuknya kuman ke dalam tubuh, yaitu seperti mulut, hidung, dan mata. Berdasarkan penelitian, 80% kuman penyakit menyebar melalui sentuhan. Dengan demikian sediaan sabun cuci tangan perlu diproduksi dengan standar tertentu untuk menjamin keamanan dan kenyamanan penggunaannya pada kulit manusia.
.jpeg)
Berdasarkan penelitian dosen dan mahasiswa tim pengabdian, minyak biji kelor diketahui memiliki kandungan antioksidan yang tinggi yang dapat merawat kulit, selain juga mengandung zat antibakteri yang dapat mematikan kuman pada kulit tangan. Bunga krisan putih pun diketahui memiliki efek antibakteri dan antijamur. Bunga ini dapat ditanam di pekarangan rumah sebagai bunga hias selain mudah diperoleh juga di pasar bunga di kota Medan. Dengan demikian, minyak biji kelor dan ekstrak bunga krisan dapat menjadi zat aktif dalam sabun cuci tangan untuk menjaga kebersihan tangan dari kotoran maupun kuman,” ujar Dwi Lestari selaku ketua tim pengabdian.
.jpeg)
“Kegiatan pengabdian pada masyarakat kali ini terutama ditujukan pada para guru dan orang tua murid SD Muhammadiyah 29 Sunggal dengan harapan bahwa mereka dapat menyebarkan pengetahuan dan ketrampilan yang dilatih dalam kegitan pengabdian ini kepada para murid maupun para orang tua murid lainnya dalam hal menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta penggunaan sabun cuci tangan dengan baik dan benar. Selain itu, masalah pengelolaan sisa buah dan sayur di rumah tangga dan lingkungan menjadi hal yang bermanfaat, yaitu salah satunya ekoenzim, juga dilatih yang kelak dapat disebarluaskan oleh para guru peserta pengabdian. Selain itu juga mereka juga dapat mengembangkan suatu usaha dengan produk sabun cuci tangan berbahan aktif dari bahan alam yang mudah diperoleh maupun ekoenzim yang dihasilkan”, ungkap Dwi.
.jpeg)
Dwi juga menjelaskan bahwa ekoenzim selanjutnya dapat didiversifikasi menjadi produk perbekalan kesehatan rumah tangga (pembersih rumah, komponen cairan pencuci baju), pupuk, pestisida alami, serta produk kosmetika perawatan kulit dan rambut. “Secara keseluruhan kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat berkontribusi pada upaya pencapaian tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) prioritas 3 tentang Good Health and Well-being yang menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk semua usia, prioritas 9 yaitu Industry, Innovation and Infrastructure, yang bermaksud mendorong inovasi; serta prioritas 13 yaitu Climate Action yang bergerak dalam bertindak cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya”, terangnya lebih lanjut.

“Kegiatan pengabdian ini meliputi transfer ilmu pengetahuan tentang perbedaan penggunaan sabun cuci tangan dan handsanitizer, cara penggunaan sabun cuci tangan dengan baik dan benar, serta transfer ilmu pengetahuan tentang pengelolaan sampah rumah tangga menjadi ekoenzim yang dilakukan secara interaktif. Selanjutnya, tim pengabdian USU bersama guru dan orangtua/wali murid melakukan praktik pembuatan ekoenzim dari kulit buah-buahan yang buahnya menjadi hidangan dalam acara pengabdian ini serta pembuatan sabun cuci tangan dengan menggunakan bunga krisan dan biji kelor,” papar Dwi.

Ibu Lasmidah, S.Pd.I selaku kepala sekolah mengucapkan terima kasih kepada tim pengabdian USU yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat sehingga sangat membantu guru, wali murid dan murid di SD Muhammadiyah 29 Sunggal dalam mengolah sampah dan memanfaatkan bahan alami. Kegiatan ini juga menurutnya memberi inspirasi untuk kegiatan P5 bagi murid SD yang dipimpinnya.