home icon
search icon
menu icon

> Berita > Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Dipublikasi Pada

26 Juni 2024

Dipublikasi Oleh

Sunaryo S.Kom

Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Thumbnail Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

HUMAS FARMASI USU – Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara telah melaksanakan Ujian Promosi Doktor (Sidang Terbuka) Program Doktor Ilmu Farmasi pada Selasa, 25 Juni 2024 pukul 14.00 WIB – selesai, di Ruang IMT-GT Lt. 2 Gedung Biro Pusat Administrasi USU.

Promovenda pada sidang terbuka kali ini adalah Yettrie Bess Congencya Simarmata, dengan disertasi, “Formulasi dan Uji Efek Antidiabetes Nanoliposom Ekstrak Buah Terung Bulat Hijau (Solanum xanthocarpum Schrader & Wendland) pada Tikus Jantan”.

Pimpinan sidang yaitu Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si, dengan komisi pembimbing: Prof. Dr. Anayanti Arianto, M.Si., Apt sebagai Promotor; Prof. dr. Tri Widyawati, M.Si., Ph.D sebagai Co-Promotor; dan Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt sebagai Co-Promotor, sedangkan penguji luar komisi: Prof. Dr. Urip Harahap, Apt; Dr. Sumaiyah, S.Si., M.Si., Apt; Prof. Dr. Henny Lucida, Apt; dan Prof. Dr. dr. Blondina Marpaung, Sp.PD., KR.

Uraian Singkat tentang Disertasi Promovenda:

Sistem penghantaran obat dapat mempengaruhi efek obat di dalam tubuh. Salah satu sistem penghantaran obat yang paling pesat penggunaannya yaitu bentuk nanoliposom. Bentuk ini dapat dipalikasikan dalam berbagai bentuk sediaan obat baik obat modern maupun obat bahan alam dalam bentuk ekstrak. Tanaman terung bulat hijau (TBH) (Solanum xanthocarpum Schrader & Wendland) diketahui mengandung kuersetin dan flavonoid yang berperan sebagai antidiabetes, antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji formulasi nanoliposom pada ekstrak terung bulat hijau yang paling aktif sebagai antidiabetes. Penelitian dilakukan secara eksperimental pada tikus Wistar. Standarisasi dan skrining fitokimia dilakukan pada simplisia dan ekstrak. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan (NHTBH), etil asetat (EEATBH), etanol (EETBH) dan air (EATBH). Uji toleransi glukosa dilakukan pada hewan coba normal, sedangkan uji aktivitas antidiabetes, antioksidan dan antiinflamasi pada tikus diabetes melitus tipe 2 yang diinduksi streptozotosin dan nikotinamid dengan 3 tahap. Pertama, 6 kelompok (n=5): kontrol negatif (K(-)), kontrol positif (Glibenklamid (K(+)), ekstrak (NHTBH; EEATBH; EETBH; EATBH dosis 200 mg/kgbb), diberi perlakuan selama 15 hari dengan parameter kadar glukosa darah (KGD), kedua, optimasi formulasi nanoliposom dengan parameter organoleptis ukuran partikel, indeks polidispersitas, potensial zeta, morfologi ukuran partikel, efisiensi penjerapan, stabilitas dan uji pelepasan obat. Selanjutnya ketiga, evaluasi formulasi nanoliposom dilakukan pada ekstrak yang paling aktif dengan perlakuan selama 21 hari dengan parameter KGD, kadar insulin, histopatologi pankreas, SOD, MDA dan TnF-alfa.

Karakteristik simplisia dan ekstrak memenuhi standar Materia Medika Indonesia. Uji toleransi glukosa menunjukkan persentase penurunan KGD pada menit ke-120 yang paling besar adalah EEATBH 200 mg/kgbb sebesar 60,91% dan tidak berbeda signifikan dengan kelompok glibenklamid 0,45 mg/kgbb yaitu persentase penurunan KGD sebesar 60,90%. Uji antidiabetes pada hari ke-15, rerata penurunan KGD setiap kelompok tikus menunjukkan kelompok EEATBH 200 mg/kgbb memiliki persen penurunan KGD terbesar yaitu sebesar 72,47% dan tidak berbeda signifikan dengan kelompok glibenklamid 0,45 mg/kgbb yaitu persentase penurunan KGD sebesar 72,38%. Hasil menunjukkan ekstrak etil asetat yg paling berpotensi sebagai antidiabetes. Nanoliposom yang dihasilkan berwarna hijau tua, tidak berbau, konsistensi kental. Dari hasil evaluasi formulasi nanoliposom yang terpilih atau optimum adalah nanoliposom yang dibuat dengan waktu sonikasi 30 menit. Hasil uji pH pada F1 (5,97±0,06), F2 (6,13±0,06) dan F3 (5,97±0,15). Hasil ukuran partikel pada F1 (162,57±6,37 nm), F2 (143,97±0,64 nm) dan F3 (154,17±0,51 nm). Hasil indeks polidispersi (PI) adalah F1 (0,239±0,02), F2 (0,263±0,07) dan F3 (0,273±0,01). Hasil potensial zeta F1 (-42,133±0,586), F2 (-25,367±0,404) dan F3 (-53,367±0,115). Semua formula nanoliposom stabil selama penyimpanan pada suhu rendah, morfologi berbentuk bulat dan multilamellar, efisiensi penjerapan F1 (89,711 ± 0,873), F2 (92,981 ± 0,347), dan F3 (90,670 ± 0,095) serta memenuhi iv persyaratan sustained release dan termasuk ke dalam kinetika pelepasan obat orde nol. Hasil menunjukkan pada uji penurunan KGD NEEATBH 100 mg/kgbb paling tinggi yaitu 74,31%. Kadar insulin tertinggi kelompok NEEATBH 100 mg/kgbb sebesar 615,223 pg/ml. Histopatologi pankreas menunjukkan kelompok NEEATBH 100 mg/kgbb menunjukkan gambaran histopatologi yang mendekati kelompok normal, akan tetapi kelompok Na-CMC terdapat inflamasi pada sel beta pankreas, edema dan kariolisis pada sel beta pankreas, bentuk pulau Langerhans tidak beraturan dan membesar. Kadar SOD NEEATBH 100 mg/kgbb sebesar 11,73 ng/ml. Kadar MDA terendah adalah kelompok NEEATBH 100 mg/kgbb sebesar 4,619 ng/ml. Kadar TNF-α terendah adalah kelompok NEEATBH 100 mg/kgbb sebesar 1,213 pg/ml. Nanoliposom ekstrak etil asetat terung bulat hijau dosis 100 mg/kgbb menunjukkan aktivitas antidiabetes, antioksidan dan antiinflamasi paling baik ditandai dengan kadar KGD, MDA, dan TNF-α paling rendah dan kadar insulin dan SOD paling tinggi dengan gambaran histopatologi yang mendekati normal.

SELAMAT & SUKSES kepada Yettrie Bess Congencya Simarmata atas diraihnya gelar Doktor!

Berita