Medan, 7 Agustus 2026Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) kembali memperkuat wawasan akademik dan riset mahasiswa melalui kegiatan kuliah tamu yang menghadirkan pembahasan mengenai perkembangan teknologi farmasi, khususnya green nanotheranostics serta potensi minyak sawit sebagai bahan baku produk farmasi dan kesehatan.

Dalam materi bertajuk “Green Nanotheranostics”,apt. Dhadhang Wahyu Kurniawan, M.Sc., Ph.D. ,Memaparkan perkembangan nanomedisin dan pemanfaatan nanopartikel dalam sistem penghantaran obat. Materi tersebut menekankan bahwa nanoteknologi merupakan alat untuk mengembangkan sistem penghantaran obat yang mampu meningkatkan efektivitas terapi sekaligus mengurangi toksisitas.

Pembahasan kemudian diarahkan pada nanotheranostics, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan aspek diagnosis dan terapi. Salah satu fokus yang dipaparkan adalah pemanfaatan superparamagnetic iron oxide nanoparticles (SPIONs), termasuk potensinya dalam terapi tertarget dan penanganan penyakit hati. apt. Dhadhang Wahyu Kurniawan, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa nanomedisin berpotensi membantu diagnosis dan terapi kondisi fatty liver pada tahap awal sehingga membuka peluang intervensi yang lebih dini.

Menariknya, kuliah tamu juga mengangkat konsep green nanoparticles sebagai pendekatan riset yang lebih berkelanjutan. Sintesis hijau menggunakan ekstrak tanaman dinilai menawarkan jalur yang lebih ramah lingkungan dan biokompatibel dibandingkan dengan metode sintesis konvensional yang menghadapi tantangan toksisitas dan biaya.

Dalam pemaparannya, narasumber juga memberikan contoh sintesis nanopartikel perak menggunakan ekstrak Neurada procumbens. Pendekatan green synthesis tersebut memanfaatkan biomolekul tanaman sebagai agen pereduksi sekaligus capping agent, dengan keunggulan berupa penggunaan bahan kimia beracun yang lebih rendah, efisiensi energi, serta peningkatan biokompatibilitas nanopartikel.

Selain teknologi nanomedisin, kuliah tamu turut membahas “Prospek Turunan Minyak Sawit RPMO untuk Bidang Farmasi dan Kosmetik” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Apt. Mahdi Jufri, M.Si. Materi tersebut menguraikan bahwa minyak sawit tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai minyak goreng dan biodiesel, tetapi juga memiliki kandungan yang berpotensi dikembangkan di bidang kesehatan.

Prof. Mahdi mengatakan bahwa minyak sawit diketahui kaya akan vitamin E, terutama tokotrienol dan tokoferol, serta mengandung beta-karoten dan berbagai senyawa bioaktif lainnya. Kandungan tersebut menjadi dasar pengembangan minyak sawit untuk berbagai produk farmasi, suplemen, nutrisi, dan produk kesehatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Apt. Mahdi Jufri, M.Si. juga membahas peluang pengembangan Red Palm Oil (RPO)menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pengembangan tersebut mencakup produk pangan dan suplemen kesehatan, hingga inovasi seperti sirup emulsi multivitamin, produk kosmetik, serta aplikasi mikroenkapsulasi dan nanoenkapsulasi untuk menghasilkan produk yang lebih inovatif.

Kuliah tamu ini memberikan perspektif kepada mahasiswa Farmasi USU mengenai pentingnya menghubungkan ilmu farmasi, teknologi, bahan alam, dan inovasi berkelanjutan. Pengembangan bahan alam seperti tanaman dan minyak sawit menjadi bahan baku bernilai tambah juga berpotensi mendukung kemandirian bahan baku farmasi. Materi mencatat bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku industri farmasi, sehingga penelitian dan pengembangan bahan baku lokal menjadi peluang strategis.

Kegiatan kuliah tamu ini sejalan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

  • SDG 3 – Good Health and Well-being: Pengembangan nanotheranostics, sistem penghantaran obat tertarget, serta pemanfaatan bahan alam untuk produk kesehatan mendukung upaya meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan kesehatan.

  • SDG 4 – Quality Education: Kuliah tamu menjadi sarana peningkatan pengetahuan mahasiswa melalui paparan langsung terhadap perkembangan teknologi dan penelitian farmasi terkini.

  • SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure:Materi mengenai nanomedisin, green synthesis, mikroenkapsulasi, dan nanoenkapsulasi mendorong inovasi berbasis riset yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan industri farmasi.

  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production:Konsep green synthesis yang memanfaatkan biomolekul tanaman dan menekan penggunaan bahan kimia beracun serta konsumsi energi mendukung praktik produksi yang lebih berkelanjutan.

  • SDG 8 – Decent Work and Economic Growth: Pengembangan turunan minyak sawit menjadi produk farmasi, kosmetik, dan kesehatan bernilai tambah membuka peluang hilirisasi hasil penelitian serta penguatan industri berbasis sumber daya lokal.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Farmasi USU menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, inovasi, bahan alam, dan keberlanjutan. Diharapkan wawasan yang diperoleh mahasiswa dapat menjadi bekal untuk menghasilkan penelitian dan inovasi farmasi yang tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.