Fakultas Farmasi USU Gelar Webinar Nasional Bahas HTA dan Farmakoekonomi
BeritaDosen Farmasi USU Raih Best Poster Presenter di ICCBS 2026 Osaka
BeritaMahasiswa Farmasi USU Raih Kelulusan 100% pada UKOMNAS PDPA 2026
23 Agustus 2024
Sunaryo S.Kom
HUMAS FARMASI USU – Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara mengadakan seminar top scientist dengan tema Korean Traditional Medicine and its Application: Collaborations and Future Plans with Indonesia pada Kamis (22/8), pukul 09.30 WIB – selesai di Aula Lt. 2 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Seminar dibuka oleh Wakil Dekan III, Marianne, S.Si., M.Si., Apt. Pembicara yang dihadirkan pada seminar top scientist ini yaitu Prof. Bonglee Kim, M.D. (KMD), Ph.D. yang merupakan seorang profesor di College of Korean Medicine, Kyung Hee University, Seoul, Korea Selatan. Prof. Bonglee Kim merupakan Head of Department of Pathology dan Chair of Department of Cancer Preventive Material Development. Selain itu, beliau juga merupakan group leader of Korean Medicine-Based Drug Repositioning Cancer Research Center.

Seminar top scientist ini dipandu oleh Dr. Rony Abdi Syahputra, M.Farm sebagai moderator, dan dihadiri oleh kurang lebih 150 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Farmasi, dosen di lingkungan Fakultas Farmasi USU, serta para tamu undangan yang merupakan mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi USU dan perwakilan dari Fakultas Kedokteran USU.

Menurut Prof. Bonglee Kim, hal terpenting dari pengobatan Korea adalah lebih menekankan pada sifat dasar tubuh manusia yang menghasilkan penyakit daripada penyakit itu sendiri. Jadi, pengobatan Korea berfokus pada patofisiologi tiap individu. Adapun bentuk terapi utama dalam pengobatan Korea, antara lain, acupuncture, moxibustion, herbal therapy, chuna, cupping, dan SCM (Sasang Constitutional Medicine). Pengobatan tradisional lebih diminati dan lebih dipercaya oleh kalangan masyarakat dibandingkan pengobatan modern. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga di Korea. Kondisi inilah yang menjadi acuan beliau bahwa prospek Tradisional Korean Medicine ini cukup besar, sehingga perlu untuk terus dikembangkan dengan berbagai macam teknik serta teknologi.